꧅꧇꧒꧇꧅


وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

꧅ꦝꦤ꧀ꦏꦩꦶꦊꦲꦶꦃꦝꦼꦏꦠ꧀ꦏꦼꦥꦝꦚ
ꦝꦫꦶꦥꦝꦈꦫꦠ꧀ꦭꦺꦲꦺꦫ꧀ꦚ꧌ꦐ꧈ꦱ꧇ꦐꦴꦥ꦳꧀꧇꧑꧖꧍꧉
“Ḍan Kami ḷbiḥ ḍĕkat kepaḍaña
 ḍaripaḍa urat léhérña” [QS. Qāf : 16].


وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ
꧅ꦝꦤ꧀ꦏꦩꦶꦊꦧꦶꦃꦝꦼꦏꦠ꧀ꦝꦼꦔꦤ꧀ꦚꦝꦫꦶꦥꦝꦏꦩꦸ꧉꧌ꦐ꧈ꦱ꧇ꦄꦭ꧀ꦮꦴꦐꦶꦄꦃ꧇꧘꧕꧇꧍

“Dan Kami lebih dekat dengannya daripada kamu” [QS. Al-Waqi’ah : 85].


꧅ꦄꦥꦏꦃ‍ꦅꦟꦶꦩꦼꦤꦸꦚ꧀ꦗꦸꦏꦤ꧀ꦧꦲ꧀ꦮꦄꦭ꧀ꦭꦴꦃꦩꦺꦩꦁꦝꦼꦏꦠ꧀ꦝꦤ꧀ꦩꦼꦚꦠꦸꦝꦼꦔꦤ꧀ꦏꦶꦠ?

Apakah ini menunjukkan bahwa Allah memang dekat dan “menyatu” dengan diri kita ?


ꦗꦮꦧ꧀꧇ꦩꦏꦏꦼꦝꦼꦏꦠꦤ꧀ꦝꦭꦩ꧀ꦝꦸꦮꦄꦪꦠ꧀ꦝꦶꦄꦠꦱ꧀ꦠꦶꦝꦏ꧀ꦭꦃ

Jawab : Makna kedekatan dalam dua ayat di atas tidaklah 
ꦧꦼꦂꦩꦏ꧀ꦤꦧꦲ꧀ꦮꦄꦭ꧀ꦭꦴꦃꦩꦼꦚꦠꦸꦝꦼꦔꦤ꧀ꦲꦩ꧀ꦧꦚ

bermakna bahwa Allah menyatu dengan hambanya
꧌ꦄꦭ꧀ꦲꦸ꦳ꦭꦸꦭ꧀꧈ꦮꦲ꧀ꦢ꦳ꦠꦸꦭ꧀ꦮꦸꦗꦸꦢ꦳꧀꧍ꦅꦟꦶꦄꦝꦭꦃꦄꦐꦶꦝꦃꦧꦡꦶꦭ꧀꧉
 (Al-Hulul/Wahdatul-Wujud). Ini adalah aqidah bathil. 
ꦩꦏ꧀ꦤꦏꦼꦝꦼꦏꦠꦤ꧀ꦝꦭꦩ꧀ꦝꦸꦮꦄꦪꦠ꧀ꦠꦼꦂꦰꦼꦧꦸꦠ꧀ꦄꦝꦭꦃ

Makna kedekatan dalam dua ayat tersebut adalah 
ꦏꦼꦝꦼꦏꦠꦤ꧀ꦩꦭꦻꦏꦠ꧀ꦠꦼꦂꦲꦝꦥ꧀ꦩꦤꦸꦱꦾ꧉꧋ꦥꦼꦫꦶꦚ꧀ꦕꦾꦤ꧀ꦚꦄꦝꦭꦃ꧇

kedekatan malaikat terhadap manusia. Perinciannya adalah 

꧅ꦥꦝꦄꦪꦴꦠ꧀ꦥꦼꦂꦠꦩ꧌‌ꦐ꧈ꦱ꧇ꦐꦴꦥ꦳꧀꧇꧑꧖꧇꧍ꦱꦶꦥ꦳ꦠ꧀ꦝꦼꦗꦠ꧀

   Pada ayat pertama (QS. Qaaf : 16), sifat “dekat” 
ꦝꦶꦧꦠꦱꦶꦥꦼꦔꦼꦂꦠꦶꦪꦤ꧀ꦚꦝꦼꦔꦤ꧀ꦩꦼꦤꦸꦚ꧀ꦗꦸꦏꦤ꧀ꦄꦪꦠ꧀ꦠꦼꦂꦰꦼꦧꦸꦠ꧀꧉

dibatasi pengertiannya dengan penunjukkan ayat tersebut. 

ꦱꦼꦊꦔ꧀ꦏꦥ꧀ꦚ꧈ꦄꦪꦠ꧀ꦝꦶꦄꦠꦱ꧀ꦊꦔ꧀ꦏꦥ꧀ꦚꦧꦼꦂꦧꦸꦚꦶ꧇
Selengkapnya, ayat di atas lengkapnya berbunyi :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ* إِذْ يَتَلَقّى الْمُتَلَقّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشّمَالِ قَعِيدٌ * مّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلاّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

꧅ꦝꦤ꧀ꦱꦼꦱꦸꦔ꧀ꦒꦸꦃꦚꦏꦩꦶꦠꦼꦭꦃꦩꦼꦚ꧀ꦕꦶꦥ꧀ꦠꦏꦤ꧀ꦩꦤꦸꦱꦾꦝꦤ꧀ꦩꦼꦔꦼꦠꦲꦸꦮꦶꦄꦥꦪꦁꦝꦶꦧꦶꦰꦶꦏꦤ꧀ꦎꦊꦃꦲꦠꦶꦚ꧈ꦝꦤ꧀ꦏꦩꦶꦊꦧꦶꦃꦝꦼꦏꦠ꧀ꦏꦼꦥꦝꦚꦝꦫꦶꦥꦝꦈꦫꦠ꧀ꦭꦺꦲꦺꦂꦚ꧇꧌ꦪꦅꦠꦸ꧍ꦏꦼꦠꦶꦏꦝꦸꦮꦎꦫꦁꦩꦭꦻꦏꦠ꧀ꦩꦼꦚ꧀ꦕꦠꦠ꧀ꦄꦩꦭ꧀ꦥꦼꦂꦧꦸꦮꦠꦤ꧀ꦚ꧈ꦪꦁꦱꦠꦸꦝꦸꦝꦸꦏ꧀ꦝꦶꦱꦼꦧꦼꦭꦃꦏꦤꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦪꦁꦱꦠꦸꦝꦸꦝꦸꦏ꧀ꦝꦶꦱꦼꦧꦼꦭꦃꦏꦶꦫꦶ꧉꧋ꦠꦾꦝꦱꦸꦮꦠꦸꦈꦕꦥꦤ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦪꦁꦝꦶꦈꦕꦥ꧀ꦏꦤ꧀꧌ꦱꦼꦱꦼꦎꦫꦁ꧍ꦩꦼꦭꦲꦶꦤ꧀ꦏꦤ꧀ꦄꦝꦝꦶꦝꦼꦏꦠ꧀ꦚꦩꦭꦻꦏꦠ꧀ꦥꦼꦔꦮꦱ꧀ꦪꦁꦱꦼꦭꦭꦸꦲꦝꦶꦂ꧌ꦐ꧈ꦱ꧇ꦐꦴꦥ꦳꧀꧇꧑꧖꧇-꧇꧑꧘꧇꧍꧅

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya; (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan (seseorang) melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [QS. Qaaf : 16-18].

꧅ꦥ꦳ꦶꦂꦩ꧀ꦩꦤ꧀ꦄꦭ꧀ꦭꦴꦃ꧌ꦅꦢ꦳꧀ꦪꦠꦭꦐꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦐꦪꦴꦤ꧀꧍꧇꧌ꦪꦅꦠꦸ꧍ꦏꦼꦠꦶꦏꦝꦸꦮꦎꦫꦁꦩꦭꦻꦏꦠ꧀ꦩꦼꦚ꧀ꦕꦠꦠ꧀ꦄꦩꦭ꧀ꦥꦼꦂꦧꦸꦮꦠꦤ꧀ꦚ꧇ꦄꦝꦭꦃꦝꦭꦶꦭ꧀ꦪꦁꦩꦼꦤꦸꦚ꧀ꦗꦸꦏꦤ꧀ꦧꦲ꧀ꦮꦪꦁꦝꦶꦩꦏ꧀ꦰꦸꦝ꧀ꦝꦶꦩꦏ꧀ꦰꦸꦝ꧀ꦎꦭꦺꦃꦄꦪꦠ꧀ꦝ꧀eeꦄꦠꦱ꧀ꦄꦝꦭꦃꦝꦼꦏꦠ꧀ꦚꦝꦸꦮꦩꦭꦻꦏꦠ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚ꧀ꦕꦠꦠ꧀ꦄꦩꦭ꧀꧅

Firman Allah [إِذْ يَتَلَقّى الْمُتَلَقّيَانِ] : “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya” ; adalah dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas adalah dekatnya dua malaikat yang mencatat amal.

꧅ꦥꦝꦄꦪꦠ꧀ꦏꦼꦝꦸꦮ꧌ꦐ꧈ꦱ꧈ꦭ꧀ꦮꦴꦐꦶꦔ꦳ꦃ꧇꧘꧕꧇꧍ꦏꦠ"ꦝꦼꦏꦠ꧀"ꦝꦶꦱꦶꦠꦸꦧꦼꦂꦏꦲꦶꦠꦤ꧀ꦝꦼꦔꦤ꧀ꦏꦼꦄꦝꦄꦤ꧀ꦱꦼꦱꦼꦎꦫꦁꦪꦁꦱꦏꦫꦠꦸꦭ꧀ꦩꦲꦸꦠ꧀꧉ꦥꦝꦲꦏ꧀ꦪꦁꦲꦝꦶꦂꦝꦭꦩ꧀ꦱꦏꦫꦠꦸꦭ꧀ꦩꦲꦸꦠ꧀‍ꦄꦝꦭꦃꦥꦫꦩꦭꦻꦏꦠ꧀ꦧꦼꦂꦝꦰꦂꦏꦤ꧀ꦥ꦳ꦶꦂꦩ꧀ꦩꦤ꧀ꦄꦭ꧀ꦭꦴꦃꦠꦔ꦳ꦭ꧇

  Pada ayat kedua (QS. Al-Waqi’ah : 85), kata “dekat” di situ berkaitan dengan keadaan seseorang yang sakaratul-maut. Padahal yang hadir dalam sakaratul-maut adalah para malaikat berdasarkan firman Allah ta’ala :

حَتّىَ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرّطُونَ
꧅ꦱꦼꦲꦶꦔ꧀ꦒꦄꦥꦧꦶꦭꦝꦠꦁꦏꦼꦩꦠꦾꦤ꧀ꦏꦼꦥꦝꦱꦭꦃꦱꦠꦸꦱꦼꦱꦼꦎꦫꦁꦝꦾꦤ꧀ꦠꦫꦏꦩꦸ꧈ꦩꦭꦻꦏꦠ꧀٢ꦏꦩꦶꦄꦏꦤ꧀ꦩꦼꦮꦥ꦳ꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦚ꧈ꦝꦤ꧀ꦩꦭꦻꦏꦠ꧀٢ꦏꦩꦶꦅꦠꦸꦠꦶꦝꦏ꧀ꦄꦏꦤ꧀ꦩꦼꦭꦭꦻꦏꦤ꧀ꦏꦼꦮꦗꦶꦧꦤ꧀ꦚ꧈꧌ꦐ꧈ꦱ꧈ꦄꦭ꧀ꦄꦤ꧀ꦔ꦳ꦩ꧀꧇꧖꧑꧇꧍

“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami akan mewafatkannya, dan malaikat-malaikat Kami itu tidakakan melalikan kewajibannya” [QS. Al-An’am : 61].

꧅ꦱꦼꦲꦶꦔ꧀ꦒ꧉꧉꧉꧉꧉ꦏꦼꦝꦼꦏꦠꦤ꧀ꦪꦁꦝꦶꦩꦏ꧀ꦰꦸꦝ꧀ꦄꦝꦭꦃꦏꦼꦝꦼꦏꦠꦤ꧀ꦩꦭꦻꦏꦠ꧀ꦩꦲꦸꦠ꧀ꦩꦲꦸꦠ꧀ꦪꦁꦝꦶꦈꦠꦸꦱ꧀ ꦄꦭ꧀ꦭꦴꦃꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ꦩꦼꦚ꧀ꦕꦧꦸꦠ꧀ꦚꦮꦱꦼꦎꦫꦁꦲꦩ꧀ꦧ꧉ꦄꦝꦥꦸꦤ꧀ ꦄꦭ꧀ꦭꦴꦃꦄꦝꦭꦃꦧꦼꦫꦝꦝꦾꦠꦱ꧀ꦭꦔꦶꦠ꧀ꦝꦤ꧀ꦧꦼꦂꦰꦼꦩꦪꦩ꧀꧌ꦅꦱ꧀ꦠꦶꦩꦺꦮ꧍ꦝꦶꦄꦠꦱ꧀ꦔ꦳ꦂꦰꦶ꧈ꦱꦼꦧꦒꦻꦩꦟꦥ꦳ꦶꦂꦩ꧀ꦩꦤ꧀ꦚ꧇

Sehingga, …. kedekatan yang dimaksud adalah kedekatan malaikat maut yang diutus Allah untuk mencabut nyawa seorang hamba.
Adapun Allah adalah berada di atas langit dan bersemayam (istiwa’) di atas ‘Arsy, sebagaimana firman-Nya :
أَمْ أَمِنتُمْ مّن فِي السّمَآءِ أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِباً فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

꧅ꦄꦥꦏꦃꦏꦩꦸꦩꦼꦫꦰꦄꦩꦤ꧀ꦠꦼꦂꦲꦝꦥ꧀‍ ꦄꦭ꧀ꦭꦴꦃꦪꦁꦝꦶꦭꦔꦶꦠ꧀ꦏꦭꦻꦴꦝꦾꦲꦼꦟ꧀ꦝꦏ꧀ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦸꦔ꧀ꦏꦶꦂꦧꦭꦶꦏꦤ꧀ꦨꦹꦩꦶꦧꦼꦱꦼꦂꦡꦏ꧀ꦰ꧀ꦩꦸꦱꦼꦏꦭꦾꦤ꧀꧈ꦱꦼꦲꦶꦔ꧀ꦒꦝꦼꦔꦤ꧀ꦠꦶꦧꦠꦶꦧꦨꦹꦩꦶꦅꦟꦶꦧꦼꦂꦒꦸꦚ꧀ꦕꦁ꧌‌ꦐ꧈ꦱ꧀꧈ꦄꦭ꧀ꦩꦸꦭ꧀ꦏ꧀꧈꧇꧑꧖꧍

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang” [QS. Al-Mulk : 16].
الرّحْمَـَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىَ

꧅ꦄꦫ꧀ꦫꦲ꧀ꦩ꦳ꦤ꧀꧌ꦄꦭ꧀ꦭꦴꦃ꧍ꦧꦼꦂꦅꦱ꧀ꦠꦶꦮꦴꦝꦶꦄꦠꦱ꧀ꦔ꦳ꦂꦰꦶ꧌ꦐ꧈ꦱ꧈ꦡ꦳ꦲ꧇꧕꧇꧍

“Ar-Rahman (Allah) beristiwaa’ di atas ‘Arsy” [QS. Thaha : 5].

꧅ꦝꦭꦩ꧀ꦰ꦳ꦲꦶ꦳ꦃ‍ꦄꦭ꧀ꦧꦸꦏ꦳ꦫꦶꦝꦶꦧꦧ꧀ꦥ꦳ꦶꦂꦩ꧀ꦩꦤ꧀ ꦄꦭ꧀ꦭꦃ꧇ꦮꦏꦴꦤꦔ꦳ꦂꦯꦸ꦳ꦲꦸꦔ꦳ꦭꦭ꧀ꦩꦴ',ꦄꦤ꧀ꦤꦱ꧀ꦧꦶꦤ꧀ꦩꦭꦶꦏ꧀ꦫꦝꦶ꦳ꦪꦭ꧀ꦭꦴꦲꦸꦔ꦳ꦤ꧀ꦲꦸꦩꦼꦚ꧀ꦕꦼꦫꦶꦠꦏꦤ꧀꧇

Dalam Shahih Al-Bukhari di Bab Firman Allah : Wa kaana ‘Arsyuhu ‘alal-Maa’, Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu menceritakan :
فكانت زينب تفخر على أزواج النبي صلى الله عليه وسلم تقول زوجكن أهاليكن وزوجني الله تعالى من فوق سبع سماوات

꧅ꦄꦝꦭꦃꦗꦻ꦳ꦤꦧ꧀ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦔ꧀ꦒꦏꦤ꧀ꦝꦶꦫꦶꦚꦄꦠꦱ꧀ꦅꦱ꧀ꦠꦿꦶ٢ꦟꦧꦶꦰ꦳ꦭ꧀ꦭꦭ꧀ꦭꦴꦲꦸꦔ꦳ꦭꦻꦲꦶꦮꦱꦭ꧀ꦭꦩ꧀ꦅꦪꦧꦼꦂꦏꦠ꧇ꦪꦁꦥꦸꦤꦶꦏꦃꦏꦤ꧀ꦏꦩꦸ꧌ꦝꦼꦔꦤ꧀ꦟꦧꦶ꧍ꦄꦝꦭꦃꦏꦼꦭꦸꦮꦂꦒ٢ꦩꦸ꧈ꦱꦼꦝꦔ꧀ꦏꦤ꧀ꦪꦁꦥꦸꦤꦶꦏꦃꦏꦤ꧀ꦄꦏꦸꦄꦝꦭꦃꦄꦭ꧀ꦭꦴꦃꦠꦔ꦳ꦭꦪꦁꦧꦼꦫꦝꦝ꧀eeꦄꦠꦱ꧀ꦠꦸꦗꦸꦃꦭꦔꦶꦠ꧀꧉꧅
Adalah Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, ia berkata : “Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah ta’ala yang berada di atas tujuh langit”.
꧅ꦝꦭꦩ꧀ꦫꦶꦮꦪꦠ꧀ꦭꦲꦶꦤ꧀꧇ꦗꦻ꦳ꦤꦧ꧀ꦧꦶꦤ꧀ꦠꦶꦗꦲ꧀ꦯꦶ꦳ꦧꦼꦂꦗꦠ꧇
Dalam riwayat lain : Zainab binti Jahsy berkata :
إن الله أنكحني في السماء

꧅ꦱꦼꦱꦸꦔ꧀ꦒꦸꦃꦚꦄꦭ꧀ꦭꦴꦃꦠꦼꦭꦲ꧀ꦲ꧀ꦥꦸꦤꦶꦏꦃꦏꦤ꧀ꦄꦏꦸ꧌ꦝꦼꦔꦤ꧀ꦟꦧꦶ꧍ꦝꦫꦶꦄꦠꦱ꧀ꦭꦔꦶꦠ꧀꧌ꦲ꧈ꦫ꧇ꦧꦸꦏ꦳ꦫꦶ꧇꧘/꧑꧗꧖꧇꧍
“Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku (dengan Nabi) dari atas langit” [HR. Bukhari 8/176].
꧋ꦅꦧ꧀ꦤꦸꦩꦱ꧀ꦔꦸ꦳ꦢ꦳꧀꧈ꦫꦝ꦳ꦶꦪꦭ꧀ꦭꦴꦲꦸꦔ꦳ꦤ꧀ꦲꦸꦧꦼꦂꦏꦠ꧇
Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu berkata :
والعرش على الماء والله على العرش يعلم ما أنتم عليه
꧅ꦔꦂ꦳ꦯꦶ꦳ꦅꦠꦸꦝꦶꦄꦠꦱ꧀ꦍꦂꦝꦤ꧀ꦄꦭ꧀ꦭꦴꦃꦝꦶꦄꦠꦱ꧀ꦔꦂ꦳ꦯꦶ꦳꧈ꦅꦠꦩꦼꦔꦼꦠꦲꦸꦮꦶꦄꦥ٢ ꦪꦁꦏꦩꦸꦏꦼꦂꦗꦏꦤ꧀꧌ꦝꦶꦏꦼꦭꦸꦮꦂꦏꦤ꧀ꦎꦊꦃꦅꦩꦩ꧀ꦡ꦳ꦧꦿꦟꦶꦝꦫꦶꦄꦭ꧀ꦩꦸ͜ꦗꦩꦸꦭ꧀ꦏꦧꦷꦂꦤꦺꦴꦩꦺꦴꦂ꧇꧘꧙꧘꧗꧇ꦝꦼꦔꦤ꧀ꦱꦤꦢ꧀ꦰ꦳ꦲꦶꦃ꧍ꦮꦭ꧀ꦭꦴꦲꦸꦄ͜ꦭꦩ꧀꧍

Arsy itu di atas air dan Allah di atas ‘Arsy. Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan” [Dikeluarkan oleh Imam Thabrani dari Al-Mu’jamul-Kabiir nomor 8987, dengan sanad shahih].
Wallahu a’lam
http://cakrabayuaji.blogspot.com

Komentar