꧁ꦱꦶꦝꦁꦏꦺꦴꦩꦶꦱꦶ꧂

DRAFT PEMBAHASAN SIDANG KOMISI II
TATA TULIS AKSARA JAWA
BAB I
Pengertian
Pasal 1
(1). Aksara adalah sistem simbol visual yang bersifat silabik. 
(2). Aksara Jawa Baru dikenal dengan penyebutan dan penamaan aksara carakan.
(3). Aksara Jawa Kuno dikenal dengan penyebutan dan penamaan aksara kawi.
(4). Wyanjana adalah penyebutan untuk aksara-aksara selain aksara vokal.
(5). Swara adalah penyebutan untuk aksara-aksara vokal. 
(6). Murda adalah aksara-aksara yang digunakan untuk kepentingan tata prunggu atau penghormatan. 
(7). Mahaprana adalah penyebutan untuk aksara-aksara yang diucapkan dengan hembusan berat atau 
nafas besar.
(8). Alpaprana adalah penyebutan untuk aksara-aksara yang diucapkan dengan hembusan ringan.
(9). Mandaswara adalah penyebutan untuk aksara-aksara yang diucapkan dengan suara lemah atau 
disebut dengan semi vokal.
(10). Śāstra lampah, adalah mekanisme bertemunya aksara tertutup pada akhir kata dengan aksara 
swara diawal kata berikutnya.
(11). Virama adalah penyebutan untuk tanda yang berfungsi mematikan konsonan peyangganya.
(12). Candrabindu adalah tanda untuk menyengaukan vokal, pada kata yang dianggap suci (ꦀ ).
(13). Anuswara merupakan tanda sengau setelah vokal. 
(14). Wisarga adalah tanda untuk [h] pada posisi akhir, dalam bahasa Jawa wisarga ini dikenal sebagai 
sanḍangan wignyan (ꦀ ).
(15). Nukta secara harfiah adalah tanda untuk menulis kata – kata pinjaman, dalam bahasa Jawa nukta
ini dikenal sebagai sanḍangan cecak telu (ꦀ ).
Pasal 2
(1). Sastra Ajisaka, merupakan bagian dari mitologi dan filosofi aksara Jawa yang secara umum 
menggambarkan konsep sangkan paraning dumadi.
(2). Sejarah Aksara Jawa, secara kronologi aksara Jawa merupakan turunan dari aksara Jawa Kuno 
(Kawi), yang melalui proses panjang hingga menjadi bentuk seperti aksara Jawa yang kita kenal 
sekarang.
Pasal 3
(1). Silabik, adalah lambang-lambang tata tulis yang mewakili suku kata, yang menyusun kata. 
(2). Scriptio continua, dalam bahasa Jawa gaya penulisan seperti ini disebut sastra lampah. 
(3). Penulisan aksara Jawa tidak mengacu pada penulisan Latin.
(4). Legena atau nglegena, adalah distribusi aksara Jawa yang belum mendapat sanḍangan.
BAB II 
Kelengkapan Aksara
Pasal 4
Kelengkapan Aksara Jawa terdiri dari:
(1). Aksara wyanjana adalah aksara-aksara selain aksara vokal, menurut warga aksara dapat dibedakan 
menjadi akṣara golongan warga tenggorok/guttural/kaṇṭhya, Akṣara golongan warga langit -
langit/palatal/tālavya, Akṣara golongan warga lidah/retrofleks/mūrdhanya, akṣara golongan warga 
gigi/dental/dantya, akṣara golongan warga bibir/oṣṭhya/labial.
(2). Aksara swara adalah aksara yang digunakan untuk menuliskan vokal yang menjadi suku kata. 
Aksara swara terdiri dari aksara swara utama, aksara swara mandiri, dan aksara swara dirga.
(3). Aksara rekan adalah aksara rekaan untuk penulisan kosa kata asing yang masih dipertahankan 
seperti aslinya atau kosa kata asing yang belum diserap ke dalam bahasa Jawa
(4). Angka adalah bagian dari aksara jawa yang digunakan sebagai lambang numerik yang penulisannya 
harus diapit dengan pada pangkat.
(5). Sanḍangan, adalah tanda yang digunakan untuk merubah atau menambah bunyi aksara atau 
pasangan. Sandhangan dibedakan menjadi sandhangan swara, sandhangan wayanjana, 
sandhangan panyigeg, dan sandhangan pangkon
(6). Pada atau tetenger adalah tanda baca yang digunakan dalam penulisan aksara Jawa.
a) Pada adalah tanda yang digunakan dalam penulisan aksara Jawa, baik di awal, di tengah, 
maupun di akhir. 
b) Pada Adeg /꧊/ adalah tanda petik, yaitu tanda baca yang berfungsi untuk secara berpasangan 
untuk menandai ucapan, kutipan, frasa, atau kata.
c) Pada Ade-adeg adalah tanda / ꧋ / digunakan di depan kalimat pada tiap-tiap awal alenia. 
d) pada windu /꧆/, pada windu ini biasa digunakan bersama dengan pada adeg-adeg membentuk
pada guru.
e) Pada Guru adalah tanda / ꧋ ꧞ ꧋/ digunakan untuk pembuka kalimat dalam surat-menyurat dan 
di dalam buku perdata yang memuat pasal-pasal hukum. 
f) Pada Pancak adalah tanda / ꧉ ꧞ ꧉ / digunakan untuk penutup kalimat dalam surat-menyurat 
dan di dalam buku perdata yang memuat pasal-pasal hukum.
g) Pada Lingsa adalah tanda / ꧈ / digunakan: pada akhir bagian kalimat sebagai tanda intonasi 
setengah selesai; di antara bagian-bagian di dalam pemerian; pada akhir singkatan nama orang;
gelar; dan singkatan lain yang bukan akronim, 
h) Pada Lungsi adalah tanda / ꧉ / yang digunakan untuk mengakhiri sebuah kalimat, 
i) Pada Pangkat adalah tanda / ꧇ / digunakan pada akhir penyataan lengkap jika diikuti rangkaian 
atau pemerian; mengapit angka; mengapit petikan langsung, 
j) Pada Luhur adalah tanda / ꧅/ yang digunakan di dalam surat atau karangan yang berwujud 
tembang atau puisi yang ditulis oleh orang yang derajat kedudukan atau pangkatnya tinggi dan 
ditujukan kepada bawahannya, atau orang tua kepada orang yang lebih muda.
k) Pada Madya adalah tanda /꧄/ yang digunakan di dalam surat atau tembang yang ditulis 
oleh seseorang yang ditujukan kepada orang lain yang kedudukannya sederajat atau sebaya.
l) Pada Andhap adalah tanda /꧃/ yang digunakan di dalam surat atau tembang yang ditulis 
oleh orang yang berkedudukan rendah ditujukan kepada orang yang berkedudukan lebih tinggi, 
atau orang muda kepada yang lebih tua.
m) Purwapada adalah tanda / ꧅ ꧀ ꦖ꧅/ yang digunakan untuk permulaan tembang yang 
ditulis mengapit judul pupuh permulaan (kalau ada) atau di depan bait awal pupuh permulaan,
n) Madyapada adalah tanda /꧅ꦟ꧀ꦢꦿ꧅/ yang digunakan di tengah keseluruhan karangan 
tembang yang terdiri atas beberapa pupuh. Madyapada ditulis pada awal pergantian pupuh-
pupuh tengah karangan tembang,
o) Wasanapada adalah tanda /꧅ꦆ꧅/ yang digunakan di akhir karangan suatu tembang 
atau keseluruhan tembang.
p) Pada Piseleh adalah tanda / ꧌ ꧍ / yang digunakan untuk mengapit sebuah kata, dalam aksara 
Latin, fungsinya sama dengan tanda petik yang mengapit sebuah kata, frasa atau kalimat.
q) Pada tirta tumètès /꧞/ adalah semacam tanda koreksi yang berguna untuk menandakan salah 
tulis. Apabila terjadi kesalahan penulisan, bagian yang salah diberikan tanda tersebut sebanyak 
tiga kali. Tirta tumétés biasa digunakan oleh penulis Yogyakarta. 
r) pada isèn-isèn /꧟/ adalah semacam tanda koreksi yang berguna untuk menandakan salah tulis. 
Apabila terjadi kesalahan penulisan, bagian yang salah diberikan tanda tersebut sebanyak tiga 
kali. Isèn-isèn biasa digunakan oleh penulis Surakarta. 
s) pangrangkep /ꧏ/ digunakan sebagai tanda pengulangan kata yang dalam bahasa Indonesia 
informal setara dengan penggunaan angka 2 untuk kata berulang 
t) Rerenggan kiwa lan tengen /꧁ ꦀꦀꦀꦀꦀꦀꦀ꧂ / adalah tanda baca yang bersifat 
dekoratif yang biasa digunakan sebagai pengapit judul, sehingga tampak lebih menarik dan 
menonjol.
u) Cecak telu / ꦀ / sering disebut nukta, yang merupakan tanda untuk menulis fonem dari kata –
kata pinjaman karena belum adanya lambang bunyi dalam aksara Jawa yang bisa mewakili bunyi 
tersebut. 
v) Candra bindu/panyangga /ꦀ / merupakan tanda untuk menyengaukan vokal, dalam aksara 
Jawa. Candrabindu ini digunakan sebagai penanda aksara yang dianggap suci
BAB III
Tata Tulis
Pasal 5
Tembung Lingga
Tembung lingga adalah kata dasar, yaitu kata yang belum mendapatkan imbuhan. Penulisan tembung 
lingga dalam aksara Jawa ditulis sesuai dengan pelafalan. 
(1). Tembung lingga atau kata dasar ditulis sesuai dengan pelafalan.
(2). Tembung lingga atau kata dasar yang terdiri dari tiga suku kata dengan suku pertama menggunakan 
pepet [ꦀ ]/menga nglegena, penulisannya sesuai yang dikehendaki penulis.
(3). Tembung lingga atau kata dasar yang terdiri dari tiga suku kata dan suku kata bagian depan berbunyi 
sengau, penulisan sesuai dengan pelafalannya.
(4). Wanda atau suku kata yang bukan merupakan suku kata terakhir, penulisannya sesuai yang 
dikehendaki penulis.
(5). Tembung lingga atau kata dasar yang menggunakan pasangan ja (ꦀꦗ) dan atau ca (ꦀꦕ), jika terletak 
dibawah aksara na mati / konsonan [ꦤ], maka aksara na tersebut berubah menjadi aksara nya
(ꦚ).
(6). Tembung lingga atau kata dasar yang menggunakan pasangan ḍa ( ꦀꦝ) dan atau ṭa ( ꦀꦛ), jika 
terletak dibawah aksara na mati / konsonan [ꦤ], maka aksara na tersebut berubah menjadi aksara 
ṇa (ꦢ).
(7). Tembung lingga atau kata dasar yang menggunakan pasangan ḍa ( ꦀꦝ) dan atau ṭa ( ꦀꦛ), jika 
terletak dibawah aksara sa mati / konsonan [ꦱ], maka aksara sa tersebut berubah menjadi aksara 
ṣa (ꦰ).
(8). Tembung lingga atau kata dasar yang menggunakan pasangan ja ( ꦀꦗ) dan atau ca ( ꦀꦕ), jika 
terletak dibawah aksara sa mati / konsonan [ꦱ], maka aksara sa tersebut berubah menjadi aksara 
śa (ꦯ).
(9). Tembung lingga atau kata dasar yang menggunakan pasangan ka ( ꦀꦏ) jika terletak dibawah 
aksara sa mati / konsonan [ꦱ], maka aksara sa tersebut berubah menjadi aksara ṣa (ꦰ).
(10). Tembung lingga atau kata dasar yang menggunakan pasangan sa (ꦀ ꦰ ) jika diikuti aksara ka 
mati / konsonan [ꦱ], maka aksara sa tersebut berubah menjadi aksara ṣa (ꦰ).
Pasal 6
Tembung Andhahan 
Tembung Andhahan adalah kata yang telah mendapat ater-ater /awalan, seselan/sisipan, dan 
panambang/akhiran.
Pasal 7
Tembung Andhahan dengan Ater-ater
(1). Penulisan tembung andhahan yang mendapatkan anuswara. Jika kata suku kata terdepan luluh
/menyatu, awalan anuswara tidak ditulis dengan ha (ꦲ) / han (ꦲꦤ꧀) / ham (ꦲꦩ꧀) /hang
(ꦲꦔ꧀), dikecualikan untuk menggenapi guru wilangan pada tembang.
(2). Tembung andhahan atau kata turunan dengan awalan anuswara. Jika kata suku kata terdepan tidak 
luluh /tidak menyatu, awalan anuswara ditulis dengan ha (ꦲ)
(3). Tembung adhahan atau kata turunan dengan kata dasar yang diawali dengan nasal /anuswara dan 
berawalan pa-, maka penulisan kata turunan dari kata dasar yang berawalan nasal tersebut ditulis 
seperti penulisan latinnya.
(4). Kata yang diawali dengan ha jika diberi awalan pi- atau pri-, maka kata tersebut ditulis tetap.
Pasal 8
Tembung Andhahan dengan Seselan
(1). Seselan terdapat 6 (enam) jenis antara lain in, um, er, el, eth, eth.
(2). Kata yang mendapat seselan tidak ditulis rangkap.
(3). Kata yang mendapat seselan ꦫ atau ꦭ (er atau el), suku kata pertama dan kedua dijadikan satu 
suku kata. 
(4). Kata dengan seselan ꦤ ditulis sebagai berikut:
a. kata dasar berawalan ꦲ, ditulis dengan menambah bunyi sengau ng di depan kata.
b. kata dasar berawalan selain ꦲ, ditulis dengan meletakkan seselan ꦤ di aksara awal kata 
tersebut
(5). Seselan ꦤ digunakan bersama dengan panambang -ake /ꦲꦏꦺ/ ditulis dengan meletakkan 
seselan ꦤ di belakang aksara awal kata tersebut
(6). Seselan ꦤ digunakan bersama dengan panambang -an → ꦲꦤ꧀ ditulis dengan meletakkan 
seselan ꦤ di belakang aksara awal kata tersebut
Pasal 11
Tembung Andhahan dengan Panambang
(1). Panambang terdapat 7 (tujuh) jenis antara lain -a /ꦲ/; -e /ꦏꦲ/; -ipun /ꦲꦶꦥ ꦤ꧀/; I /ꦲꦶ/; an
/ꦲꦤ꧀/; en /ꦲ ꦤ꧀/; ana /ꦲꦤ/; aken /ꦲꦺ ꦤ꧀/.
(2). Panambang ꦲ jika disambung 
a. Wanda menga legena ditulis apa adanya, hanya pengucapan wanda menga seperti taling 
tarung, bunyi panambang ꦲ seperti aksara ꦮ mandaswara
b. Wanda menga dengan sandhangan wulu atau taling, panambang ꦲ berubah ꦪ jika yang 
diwulu atau ditaling bukan aksara ꦪ.
c. Wanda menga dengan sandhangan suku atau taling-tarung, panambang ꦲ berubah ꦮ, jika
yang bersuku atau taling-tarung bukan aksara ꦮ
d. Wanda sigeg, panambang ꦲ berubah menjadi aksara sigeg wanda tersebut
e. Wanda sigeg dengan sandhangan swara, bunyi sandhangan swara berubah jejeg
f. Jika bersamaan dengan ater-ater ꦱ, panambang ꦲꦤ꧀ dan panambang ꦏꦲ, panambang 
ꦲ berubah ꦪ
(3). Panambang ꦏꦲ꧈ ꦲꦶꦥ ꦤ꧀
a. Panambang ꦏꦲ untuk ngoko, ꦲꦶꦥ ꦤ꧀ untuk krama, jika disambung wanda menga berubah 
ꦏꦤ (ꦤꦶꦥ ꦤ꧀) ditulis tanpa pasangan ꦤ꧉
b. Panambang ꦏꦲ (ꦲꦶꦥ ꦤ꧀) jika disambung dengan wanda sigeg, aksara ꦲ berubah 
menjadi aksara sigeg wanda yang disambung
(4). Panambang ꦲꦶ
a. Jika disambung dengan wanda menga, panambang ꦲꦶditolong panambang ꦲꦤ꧀꧈ ditulis 
dengan pasangan ꦤ
b. Jika disambung dengan wanda sigeg, panambang ꦲꦶaksara ꦲ berubah menjadi aksara sigeg 
wanda yang disambung
c. Panambang ꦲꦶbagi kata yang dengan ater-ater ꦺ atau dengan seselan ꦤ꧈ diganti ꦲꦤ꧀
(5). Panambang ꦲꦤ꧀
a. Jika disambung dengan wanda menga, panambang ꦲꦤ꧀ luluh dengan wanda yang 
disambung
b. Jika wanda yang disambung berupa sandhangan wulu maka berubah taling, suku berubah 
taling-tarung
c. Panambang ꦲꦤ꧀ disambung wanda menga dengan sandhangan wulu atau taling, berubah 
ꦪꦤ꧀
d. Panambang ꦲꦤ꧀ disambung wanda menga dengan sandhangan suku atau taling-tarung 
berubah ꦮꦤ꧀
e. Kata dengan wanda wekasan menga dengan sandhangan wulu, sandhangan wulu berubah 
taling, panambang ꦲꦤ꧀ berubah ꦪꦤ꧀
f. Kata dengan wanda wekasan menga dengan sandhangan wulu, taling atau suku, panambang 
dapat luluh atau tidak luluh dengan wanda wekasan kata yang dipanambangi
g. Ater-ater ꦥ bersamaan dengan panambang ꦲꦤ꧀, ater-ater tidak luluh dengan awal kata 
yang diater-ateri, pakecapan ꦥ tetapi penulisan ꦥ
h. Ater-ater bersamaan dengan panambang ꦲꦤ꧀ berarti tembung aran, pengucapan ꦺ ꧈
penulisan ꦺ
i. Ater-ater ꦺ bersamaan dengan panambang ꦲꦤ꧀ atau ꦲ ꦤ꧀ ditulis dan diucapkan ꦺ 
j. Panambang ꦲꦤ꧀ yang disambung pada kata wanda wekasan dengan wignyan, ditulis tetap 
sesuai aslinya
(6). Panambang ꦲ ꦤ꧀
a. Jika disambung pada wanda menga, maka berubah ꦲ ꦤ꧀, ditulis tanpa pasangan ꦤ
b. Jika disambung pada wanda sigeg, panambang ꦲ ꦤ꧀ aksara ꦲ berubah menjadi aksara 
sigeg wanda yang disambung
c. Ater-ater ꦺ bersama dengan panambang ꦲ ꦤ꧀, ditulis ꦺ 
d. Ater-ater ꦺ luluh atau bunyi sama dengan awal kata yang mendapat ater-ater
e. Ater-ater ꦺ berubah ꦺ (kata dasar berawalan ꦮ)
f. Tembung andhahan dengan akhiran ꦲꦤ꧀ dari kata dasar dengan wanda wekasan menga, 
ditulis ꦲ ꦤ꧀ menggunakan pasangan ꦤ
g. Kata dengan panambang ꦲ ꦤ꧀ bermakna nandhang 
(7). Panambang ꦲꦤ
a. Jika bersambung dengan wanda menga, panambang ꦲꦤ ditulis ꦲ ꦤ꧀, maka ditulis dengan 
pasangan ꦤ
b. Jika disambung pada wanda sigeg, panambang ꦲꦤ pada aksara ꦲ berubah menjadi aksara 
sigeg wanda yang disambungkan
c. Panambang ꦲꦤ digunakan bersamaan dengan ater-ater anuswara, ater-ater tripurusa, ater-
ater ꦺ lan seselan ꦤ
(8). Panambang ꦲꦏꦺ (ꦲꦺ ꦤ꧀)
a. Jika disambung pada wanda sigeg, aksara ꦲ berubah menjadi aksara sigeg wanda yang 
disambungkan
b. Jika disambung dengan sigeg aksara ꦺ, panambang ꦲꦏꦺ (ꦲꦺ ꦤ꧀) berubah ꦺꦏꦺ
(ꦺꦺ ꦤ꧀)
c. Jika disambung wanda menga, panambang ꦲꦏꦺ (ꦲꦺ ꦤ꧀) tetap, tetapi dibantu sesigeg 
ꦺ. Jika kata dasar wanda wekasan dengan sandhangan wulu (ꦀꦶ) berubah taling (ꦏꦀ), suku
(ꦀ ) berubah taling-tarung (ꦺꦴꦴ )
d. Jika panambang ꦲꦏꦺ (ꦲꦺ ꦤ꧀) digunakan bersama ater-ater anuswara wanda terakhir 
sigeg, aksara ꦲ berubah menjadi aksara sigeg wanda yang disambungkan
e. Panambang ꦲꦏꦺ (ꦲꦺ ꦤ꧀) juga digunakan bersama ater-ater tripurusa, ater-ater ꦺ lan 
seselan ꦤ
Pasal 12
Tembung Rangkep
(1). Tembung Dwi-purwa yang mengulang sandhangan swara, seperti :
(2). Tembung Dwi-lingga yang suku kata awalnya: a, serta suku kata akhir sigeg, kalau dibuat dwi-
lingga, suku kata awal kata yang belakang tidak berubah menjadi sisigeg tadi, seperti:
Pasal 13
Tembung Camboran
(1). Tembung camboran tugel atau camboran wancahan ditulis sesuai dengan pengucapannya. 
(2). Tembung camboran wutuh penulisannya sesuai dengan bentuk katanya dan pengucapannya, dalam 
hal ini tidak mengenal sastra lampah seperti tata penulisan huruf Kawi. 
Pasal 14
Daya Tembung
(1). Daya tembung adalah penulisan sebuah kata yang seolah-olah dipengaruhi oleh suara kata lain dalam 
suatu bentuk frasa atau kata majemuk.
(2). Penulisan kata terakhir yang berawalan vokal dalam sebuah frasa atau kata majemuk harus ditulis 
sesuai dengan aslinya, dan tidak mengikuti kata depannya yang berakhiran konsonan. 
(3). Penulisan kata turunan pada kata ulang dwilingga yang berawalan vokal dan berakhiran konsonan 
harus ditulis sesuai kata dasarnya. 
(4). Penulisan vokal /a/ di akhir sebuah kata jika bertemu vokal /i/ pada kata berikutnya, maka kedua vokal 
tersebut berubah menjadi /e/
(5). Penulisan kata berawalan vokal di belakang sebuah kata yang berakhiran konsonan /ng/, maka 
penulisan kata yang mengikuti tersebut tetap
Pasal 15
Kata Serapan
(1). Kata serapan adalah kata yang berasal dari Bahasa asing yang sudah diintegrasikan ke dalam suatu 
Bahasa dan diterima pemakaiannya secara umum.
(2). Penulisan a ganda (dobel a) apabila pengucapannya dengan jelas penulisan dalam aksara Jawa 
menggunakan aksara suara [ꦄ]
(3). Penulisan ai dalam satu kata diperlakukan dengan beberapa penulisan yaitu :
a. ai yang tidak bervariasi dengan e, diperlakukan sebagai dua aksara dan ditulis dengan aksara 
suara.
b. ai yang bervariasi dengan e diperlakukan sebagai satu suara dan ditulis menggunakan dirge 
mure (bunyi diftong)
(4). Penulisan ae dalam satu kata diperlakukan sebagai dua aksara ditulis menggunakan aksara suara 
[ꦌ]
(5). Penulisan au dalam satu kata diperlakukan dengan beberapa alternative penulisan yaitu
menggunakan aksara suara [ꦈ] atau menggunakan sandhangan mure raswadi (bunyi diftong)
(6). Penulisan ié dalam satu kata menggunakan pelancar [ꦪ] ditulis sesuai pengucapannya.
(7). Penulisan ua dalam satu kata diperlakukan dengan menggunakan aksara suara [ꦄ] dan 
menggunakan pelancar suara [ꦮ]
(8). Penulisan ia dalam satu kata ditulis dengan menggunakan aksara suara [ꦄ] dan menggunakan 
pelancar aksara [ꦪ]
(9). Penulisan oa dalam sstu kata diperlakukan dengan menggunakan aksara suara [ꦄ] dan 
menggunakan pelancar aksara [ꦮ]
(10).Penulisan eo dalam satu kata diperlakukan dengan pelancar aksara [ꦪ]
(11).Penulisan eu dalam satu kata diperlakukan sesuai dengan tulisan latinnya,.
(12).Penulisan ui dalam satu kata diperlakukan dengan menggunakan pelancar aksara [ꦮ].
Pasal 16
Akronim dan Singkatan
(1). Akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata, atau bagian lain yang 
ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.
(2). Singkatan merupakan sebuah huruf atau sekumpulan huruf sebagai bentuk pendek dari sebuah atau 
beberapa kata. 
(3). Penulisan akronim dan singkatan didasarkan padha pengucapannya.
(4). Penulisan singkatan yang berada di belakang, misalnya nama marga, gelar kesarjanaan, maka 
penulisannya diawali dan diakhiri dengan pada lingsa. 
(5). Penulisan akronim dan singkatan tidak perlu menggunakan aksara murda.
BAB IV
Penutup
Rumusan tata tulis atau uger pasang aksara Jawa ini merupakan evaluasi dan sedikit memberi
warna pada kaidah penulisan aksara Jawa modern, dengan harapan aksara Jawa dengan kaidah
penulisan yang telah ada, akan tetap lestari sampai pada generasi berikutnya tanpa harus mengalami 
perubahan uger pasang yang sporadis dan brutal, karena apabila hal tersebut terjadi, sama saja kita
memutus benang merah teks – teks Jawa klasik sehingga generasi ke depan tidak lagi bisa membaca 
karya sastra lama yang masih banyak berserak di banyak koleksi naskah perpustakaan dalam maupun 
luar negeri. Oleh karena itu melalui rumusan ini, diketengahkan tata tulis atau uger pasang aksara
Jawa yang telah mengalami perbandingan – perbandingan tata tulis dari beberapa dekade dimana kaidah 
tata tulis aksara Jawa digunakan, dan hasilnya adalah seperti yang bis akita baca pada lembaran bab –
bab dalam rumusan ini.
Rumusan tata tulis ini diharapkan bisa menjadi mediasi bagi kalangan yang masih ngugemi 
budaya Jawa untuk bisa mengekspresikan kembali olah cipta, rasa dan karsa melalui aksara Jawa. 
Beberapa hal mendasar telah ditambahkan dalam tata tulis atau uger pasang ini sebagai bentuk
kompromi dan kesiapan aksara Jawa untuk selalu mengawal budaya adiluhung Jawa di era Modern.
Hal – hal tersebut yang berkaitan dengan telah terdaftarnya aksara Jawa pada Unicode Aksara – Aksara 
Daerah di Dunia.

Penjelasan Pasal
BAB I
Pengertian
Pasal 1
 
ayat (1)
secara harafiah berasal dari bahasa Sansekerta अक्षर = अ + क्ष + र (a+kṣa+ra) yang berarti tidak 
hancur atau abadi.
ayat (2) sudah jelas
ayat (3) sudah jelas
ayat (4) 
wyanjana secara harafiah berasal dari bahasa Sanskṛta. व्यंजन (vyañjana) yang berarti konsonan, dalam 
bahasa Jawa diadopsi menjadi ꦮꦾꦚꦗꦤ (wyañjana), untuk mengelompokan aksara – aksara selain 
aksara vokal
ayat (5)
Secara harafiah berasal dari bahasa Sanskṛta स्वर (svara) yang berarti vokal, dalam bahasa Jawa 
diadopsi menjadi ꦱꦮꦫ (swara), untuk mengelompokan aksara – aksara vokal.
ayat (6) 
Aksara Murda secara harfiah berasal dari bahasa Sanskṛta मूर्ध (mūrdha) yang berarti kepala, bagian 
tertinggi, dalam bahasa Jawa diadopsi menjadi ꦩꦹꦫ꧀ꦣ꧈ꦩ ꦂꦫ꧀ (mūṝdha, murdha), istilah ini pada tata tulis 
aksara Jawa hasil Parepatan Koemisi Kasoesastran ing Sriwedari (Soerakarta) digunakan untuk 
menuliskan kata-kata yang bersifat penghormatan atau disebut tata prunggu. Aksara-aksara yang 
dimaksud adalah aksara–aksara yang sebagaian besar termasuk golongan mahaprana, diantaranya 
ꦢ꧈ꦑ꧈ꦡ꧈ꦯ꧈ꦦ꧈ꦘ꧈ꦓ꧈ꦨ.
ayat (7) 
Mahaprana secara harfiah berasal dari bahasa Sanskṛta महाप्रण (mahāpraṇa) yang berarti hembusan berat, 
istilah ini digunakan untuk mengkategorikan aksara – aksara yang diucapkan dengan hembusan berat, 
ꦢ꧈ꦑ꧈ꦡ꧈ꦯ꧈ꦦ꧈ꦘ꧈ꦓ꧈ꦨ꧈ꦖ꧈ꦙ꧈ꦫ꧀꧈ ꦰ꧈ꦜ꧈ꦞ.
ayat (8) 
Alpaprana secara harfiah berasal dari bahasa Sanskṛta अल्पप्रण (alpapraṇa) yang berarti hembusan 
ringan, istilah ini digunakan untuk mengkategorikan aksara – aksara yang diucapkan dengan hembusan 
ringan, ꦤ꧈ꦺ꧈ꦠ꧈ꦱ꧈ꦥ꧈ꦚ꧈ꦒ꧈꧀꧈ꦕ꧈ꦗ꧈ꦢ꧈ ꦛ꧈ꦝ.
ayat (9) 
Mandaswara secara harfiah berasal dari bahasa Sanskṛta मन्दस्वर (mandasvara) yang berarti suara lemah, 
istilah ini digunakan untuk mengkategorikan aksara – aksara yang diucapkan lemah, sehingga kadang juga 
diistilahkan sebagai semi vokal, jenis aksara ini bisa dengan mudah melebur dengan aksara lainya. 
ꦪ꧈ꦫ꧈ꦭ꧈ꦮ.
ayat (10) 
Śāstra lampah merupakan mekanisme bertemunya aksara tertutup (konsonan yang terjadi dalam proses 
virama) yang bertemu dengan aksara swara, dimana aksara konsonan tadi tidak mengalami sigeg namun 
menjadi menga atau suku kata terbuka. 
Contoh: - ꦲꦊꦥ꧀ + ꦅꦺꦁ + ꦈꦩ pada tradisi penulisan lama ditulis ꦲꦊꦥꦶꦺꦔ ꦩ 
Pada tata tulis berikutnya menjadi: 
- ꦲꦊꦥ꧀ + ꦅꦺꦁ + ꦈꦩ menjadi ꦲꦊꦥꦅꦺꦁꦈꦩ 
- ꦲꦊꦥ꧀ + ꦅꦺꦁ + ꦈꦩ menjadi ꦲꦊꦥꦲꦶꦺꦁꦲ ꦩ 
ayat (11) 
Virama secara harfiah berasal dari bahasa Sanskṛta विराम (virāma) merupakan tanda untuk mematikan 
konsonan peyangganya, dalam bahasa Jawa istilah virama ini dikenal sebagai sanḍangan pangkon (ꦀ꧀).
ayat (12) 
Candrabindu secara harfiah berasal dari bahasa Sanskṛta छन्द्रविन्द्दु(chandrabindu) merupakan tanda 
untuk menyengaukan vokal, dalam aksara Jawa candrabindu ini digunakan sebagai penanda aksara yang 
dianggap suci (ꦀ )
ayat (13) 
Anuswara secara harfiah berasal dari bahasa Sanskṛta अनुस्िार (anusvāra) merupakan tanda untuk 
menyengaukan konsonan atau memberikan konsonan sengau setelah vokal, dalam bahasa Jawa 
anuswara ini dikenal sebagai sanḍangan cecak (ꦀꦁ). Dalam beberapa kasus anuswara ini tidak berujud 
tanda cecak tetapi berujud aksara ꦔ꧀, apabila bertemu dengan aksara ꦲ꧈ꦺ꧈ꦑ꧈ꦒ꧈ꦓ꧈ꦯ. 
Contohnya: ꦱꦶꦔꦲ꧈ ꦩꦔꦏ꧈ ꦨ ꦗꦔ ꦒ꧈ ꦱꦔ ꦓ꧈ꦄ ꦔ ꦯ. 
ayat (14) 
Wisarga secara harfiah berasal dari bahasa Sanskṛta ववसर्ध (visarga) merupakan tanda untuk [h] pada 
posisi akhir, dalam bahasa Jawa wisarga ini dikenal sebagai sanḍangan wignyan (ꦀ ).
ayat (15)
Nukta secara harfiah berasal dari bahasa Sanskṛta नुक्ता (nuktā) merupakan tanda untuk menulis kata –
kata pinjaman, dalam bahasa Jawa nukta ini dikenal sebagai sanḍangan cecak telu (ꦀ ).
Pasal 2
ayat (1). sudah jelas.
ayat (2). sudah jelas.
Pasal 3
ayat (1). sudah jelas
ayat (2). .
Scriptio continua, dalam bahasa Jawa gaya penulisan seperti ini disebut sastra lampah. Dalam aksara 
Jawa (dan aksara-aksara Asia Tenggara) lainnya yang merupakan turunan aksara Brahmi secara 
tradisional satu huruf dengan huruf lainnya dalam penulisan tidak dipisah. Bahkan batas-batas morfologis 
kata-kata sering menjadi kabur dan huruf terakhir kata-kata bisa mempengaruhi huruf-huruf awal kata-kata 
selanjutnya (disebut hukum sandi). Ini merupakan ciri khas aksara Jawa yang merupakan sebuah abugida 
dan diwarisi dari sistem penulisan bahasa Sanskṛta.
ayat (3). sudah jelas
ayat (4). sudah jelas
BAB II
Kelengkapan Aksara
Pasal 4
Kelengkapan Aksara Jawa terdiri dari:
ayat (1).
Aksara wyanjana, व्यंजन (vyañjana) adalah penyebutan akasara jawa yang merujuk pada aksara yang 
digunakan untuk menulis kata-kata berbahasa jawa berdasarkan artikulasi keluarnya aksara yang berjenis 
konsonan. Aksara Wyanjana terdiri dari:
a) Akṣara golongan warga tenggorok / guttural / kaṇṭhya;
Letup tak bersuara
Alpaprana
ꦏ꧀ꦏ꧈ꦑ꧀ꦑ꧈
 Letup bersuara 
Mahaprana 
ꦒ꧀ꦒ꧈ꦓ꧀ꦓ
Sengau 
ꦔ꧀ꦔ
Semi Vokal
ꦲ꧀ꦲ
Aksara Pasangan 
ꦏ꧀ꦏ꧈ꦑ꧀ꦑ꧈ꦒ꧀ꦒ꧈ꦓ꧀ꦓ꧈ꦔ꧀ꦔ꧈ꦲ꧀ꦲ꧈
ka kha ga gha nga ha
b) Akṣara golongan warga langit - langit / palatal / tālavya;
Letup tak bersuara Letup bersuara
Sengau Semi Vokal desis Alpaprana Mahaprana Alpaprana Mahaprana
Aksara Pasangan 
ꦕ꧀ꦕ꧈ꦖ꧀ꦖ꧈ꦗ꧀ꦗ꧈ꦙ꧀ꦙ꧈ꦚ꧀ꦚ꧈ꦘꦘ꧈ꦪꦾ꧈ꦯ꧀ꦯ
ca cha ja jha nya jnya ya Sya
c) Akṣara golongan warga lidah / retrofleks / mūrdhanya;

Komentar